Cinta romantis memang memukau. Bagi banyak orang, seperti dikatakan Philip Yancey, cinta romantis adalah pengalaman yang paling menyerupai anugrah Tuhan yang murni. “Seseorang akhirnya merasakan bahwa aku dan aku adalah makhluk yang paling didambakan, paling menawan, paling menyenangkan untuk dijadikan sahabat di planet ini. Seseorang terjaga pada waktu malam sambil memikirkan aku. Seseorang mengampuni aku sebelum aku memintanya, memikirkan aku ketika ia sedang berpakaian, mengatur hidupnya di seputar diriku. Seseorang mengasihiku sebagaimana adanya aku,” tulisnya.
Cinta romantis memberikan gambaran sekilas tentang kasih Tuhan yang tanpa syarat dan tanpa pamrih. Charles William menulis, “Selama waktu yang singkat, paling tidak cinta romantis memberi kita kemampuan untuk melihat yang terbaik di dalam diri orang lain, untuk mengabaikan atau mengampuni kelemahanya, untuk tenggelam dalam kekaguman yang tak berkesudahan. Keadaan itu … merupakan prabayang akan bagaimana kita suatu hari nanti akan memandang setiap orang yang telah dibangkitkan dan bagaimana Tuhan saat ini memandang kita.”
Sungguh indah, bukan? namun, dalam konteks hubungan pacaran, kita tidak boleh silau oleh kecemerlangan cinta romantis. Cinta romantis yang menggelora di antara sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta bukanlah paket yang sudah untuh sempurna. Ada karakteristik tertentu yang mesti diwaspadai agar tidak terjerat oleh daya pesonanya. Apa saja itu?
Pertama, cinta romantis tidak bertahan selama-lamanya. Sensasinya yang menggentarkan itu secara bertahap mau tak mau akan memudar. Perasaan menggelora itu perlahan-lahan akan mereda. Nah, kalau kita menjadikan cinta romantis sebagai landasan hubungan cinta, kita membangun di atas dasar yang rapuh. Pada titik tertentu kita akan terperangah ketika ketika mendapati diri tidak lagi “mencintai” pasangan kita.
Kedua, kalau kita berfokus pada cinta romantis, kita justru bisa melewatkan cinta yang sejati. Cinta yang sejati lebih dari sekedar hati yang berbunga pada pandangan pertama.
Ketiga, yang paling berbahaya, cinta romantis berpotensi menimbulkan ketagihan. Pacaran menjadi sarana pemuasan untuk mengejar gelora romatisme belaka. Celakanya, orang yang ketagihan biasanya dirundung the law of diminishing return. Artinya semakin sering hal yang menimbulkan ketaguhan itu dilakukan, justru makin berkurang kepuasan yang dihasilkannya. Orang bisa bergonta-gati pacar, berharap hubungan dengan pasangan yang baru memberikan sensasi romantis yang lebih hebat dari pada hubungan sebelumnya. Ketagihan mungkin pula di coba dipuaskan dengan meningkatkan kadar keintiman. Kalau semula sudah cukup dengan saling memandang, lama kelamaan jadi ingin saling memegang; tidak lagi puas saling memegang; tidak lama kemudian saling meremas, akhirnya melanggar batas. Gawat, bukan?
Begitulah. Cinta romantis memang indah dan menggetarkan, namun ada sisi-sisinya yang perlu dicermati agar kita tidak terseret dalam kekecewaan. Dalam memilih pasangan hidup tidaklah cukup hanya mengandalkan cinta romantis saja. Kenapa? kita memiliki aspek kerohanian. Sisi lain tersebut tidak dapat ditepiskan begitu saja. Percintaan semestinya harus terolah secara kreatif menjadi hubungan yang terbina secara kuat dan indah. Pacaran asik dan cerdas, arie saptaji.